Beranda > Uncategorized > Utamakan Pendidikan Akhlaq

Utamakan Pendidikan Akhlaq

Pendidikan Akhlaq Utama

Yang dimaksud dengan akhlak (al-khuluq) adalah perangai (as-sajiyyah) dan tabi’at (at-thab). Demikian seperti yang disebutkan dalam kamus As-Shihah. Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: Kata al-khuluq menurut bahasa adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan seseorang yang berupa adab. Sebab, ia menjadi seperti pembawaan (al-khilqah) yang ada pada dirinya. Adapun adab yang menjadi tabiatnya disebut al-khim (watak) yang berarti as-sajiyyah (perangai) dan tabiat. Dengan demikian, yang disebut al-khuluq (akhlak) itu adalah tabiat yang bisa dibentuk sedangkan al-khim adalah tabiat yang bersifat naluri.

Bertolak dari definisi akhlak yang disampaikan oleh Qurthubi, maka anak jelas sangat membutuhkan pembinaan akhlak. Hal itu dimaksudkan agar gerakan kemasyarakatan anak yang telah disebutkan di atas benar-benar lurus. Upaya ini harus dilakuan. Sebab, proses perpindahan dari tabiat yang diusahakan menuju tabiat yang mengalir begitu saja adalah sulit. Waktu yang dibutuhkan juga cukup lama. Ia harus terus meluruskan akhlaknya. Selanjutnya, upaya dari kedua orangtua dan para pendidik merupakan sesuatu yang harus dalam periode kanak-kanak ini, yang kita katakan sebagai masa yang masih fithrah, jernih, serta cepat menerima dan menyambut.

Hal ini telah dinyatakan pula oleh salah seorang ulama besar, di antaranya adalah Abu Hamid Al-Ghazali, seperti yang telah disebukan di depan pada bagian awal buku ini, dan juga Ibnul-Qayyim dalam kitabnya, Ahkamul-Maulud. Ibnul-Qayyim mengatakan: “Yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika nanti sudah tentu semua perangai itu akan muncul. Oleh karena itu kita temukan kebanyakan manusia yang akhlaknya menyimpang itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya.”

Syaikh Muhammad Khadhar Husain –rahimahullah-, mantan Rektor Universitas  Al-Azhar, memberikan dorongan mengenai pentingnya menggunakan masa kanak-kanak untuk menanamkan adab dan akhlak yang baik. Beliau mengatakan: “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah yang murni dan perangai yang lurus. Jika jiwanya yang masih polos itu menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya, maka selanjutnya pahatan itu akan terus meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya yang akan menentang segala yang berlawanan dengannya. Ini dibuktikan bahwa saya melihat seseorang yang bicaranya lembut, wajahnya berseri dan indah bila bertemu, dan pikirannya terdidik, sehingga kami tidak sangsi lagi bahwa ia termasuk orang yang ditumbuhkan secara baik oleh Allah dalam rumah yang mulia dan utama.[1]

Sekarang tinggal ada satu pertanyaan: Apa saja unsur-unsur pembinaan akhlak (moral) bagi anak? Apa pula pilar bagi pembinaan yang luhur ini? Melalui penelusuran terhadap hadits-hadits Nabi, kita temukan bahwa ia terfokus pada lima pilar sebagai berikut:

Pilar Pertama: Adab (Sopan-santun)

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Yang disebut dengan adab adalah menggunakan perkataan atau perbuatan yang terpuji. Hal ini disebut juga dengan akhlak yang mulia (makarimul-akhlaq). Ada pula pendapat yang mengatakan: Perilaku yang baik. Ada lagi yang mengatakan: Mengagungkan orang yang lebih tua dan lemah-lembut kepada yang lebih muda. Dan ada lagi yang mengatakan: Ia diambil dari kata al-ma’dubah (jamuan makan), yaitu ajakan untuk makan. Dinamakan demikian karena ia mengajak untuk itu.”[2]

Al-Junaid –rahimahullah– pernah ditanya mengenai adab, lalu beliau menjawab: “Adab adalah pergaulan yang baik.”[3]

Oleh karena itu urgensi adab ini tampak dengan jelas dalam bermuamalah dan bergaul. Bahkan ia menjadi penampilnan luar dari anak muda maupun orangtua. Oleh karena itu, menanamkan adab kepada anak dan memakaian pakaian adab kepadanya merupakan prioritas dari pendidikan moral (akhlak).

Penyair Shalih bin Abdul Quddus berkata:[4]

Anak yang engkau didikkan adab kepadannya di masa belia

laksana batang pohon yang engkau sirami ketika menanamnya

Sehingga engkau melihatnya penuh dengan dedaunan nan segar

setelah sebelumnya engkau lihat kering

* Menanamkan Adab pada Anak-anak

Urgensi adab dan penanamannya pada anak terlihat lebih jelas lagi manakala kita lihat bahwa Rasulullah saw memberikan perhatian besar terhadapnya di dalam pembinaan akhlak. Sampai-sampai beliau menjadikan penanaman adab ini pada anak dan membiasakan sehingga menjadi salah satu tabiat dan perangainya itu lebih utama dari pada sedekah yang dapat memadamkan api itu, padahal sedekah itu juga sangat penting dalam Islam.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir bin Samurah ra bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Seorang bapak yang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada bersedekah satu sha’.”[5]

Rasulullah saw menjelaskan kepada kedua orangtua bahwa hadiah terbesar bagi anak adalah adab dan warisan yang termahal baginya adalah adab yang baik.

Tirmidzi meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Ash –rahimahullah– bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih utama dari hadiah adab yang baik.”[6]

Oleh karena itu Ali Al-Madini ra mengatakan: Mewariskan adab (budi pekerti) kepada anak-anak itu lebih baik bagi mereka daripada mewariskan harta. Adab bakal mendatangkan harta, kehormatan, cinta kepada sesama saudara serta akan menghimpunkan bagi mereka kebaikan dunia dan akhirat.”[7]

Namun ada sebagian orang yang melalaikan urgensi adab ini dan menganggapnya sebagai hal sepele yang bisa diabaikan. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya yang demikian itu berarti menyiapkan anak untuk berbuat durhaka. Ia tidak tahu bahwa menanamkan adab merupakan hak anak atas bapaknya sebagaimana hak mereka untuk diberi makan dan minum yang menjadi kewajiban kedua orangtuanya.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda: “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.”

Kaum salafus shalih telah memberikan perhatian besar terhadap urgensi adab ini. Mereka membangun anak-anak mereka di atas adab ini dan menumbuhkan anak-anak mereka di atasnya. Di samping itu juga menasihatkannya. Seorang sahabat mulia, Abdullah bin Umar ra menyampaikan seruannya kepada kedua orangtua dengan bahasa yang sangat lembut: “Didiklah anakmu dengan adab, karena sesungguhnya engkau bertanggungjawab atas apa yang engkau didikkan dan apa yang engkau ajarkan. Sedangkan ia bertanggungjawab mengenai kebaktian dan kepatuhannya kepadamu.”[8]

Perhatian yang besar terhadap adab agar menjadi perangai dan karakter pada diri anak ini adalah karena adab yang baik akan menghasilkan akal yang efektif; dari akal yang efektif akan lahir kebiasaan yang baik; dari kebiasaan yang baik akan lahir karakter yang terpuji; dari karakter yang terpuji akan lahir amal shalih; dari amal shalih akan diperoleh keridhaan Allah; dan dari keridhaan Allah swt akan muncul kejayaan yang langgeng. Sebaliknya, dari adab yang buruk akan lahir rusaknya akal; rusaknya akan akan menimbulkan kebiasaan yang buruk; dari kebiasaan yang buruk akan lahir karakter yang jahat; dari karakter yang jahat akan lahir amalan yang buruk; dan amalan yang buruk akan mendatangkan kemurkaan Allah; dan kemurkaan Allah itu menyebabkan kehinaan yang selama-lamanya.[9]

Demikianlah salafus shalih itu membimbing dan mengarahkan anak-anak mereka agar mempuanyai adab yang baik serta mewariskan hal ini kepada mereka. Marilah kita bersama-sama mendengar, memperhatikan dan mempelajari kehidupan mereka.

* Beberapa Contoh dari Kehidupan Salafus Shalih

Ruwaim bin Ahmad Al-Baghdadi pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, jadikanlah amalanmu seperti garam dan adabmu seperti gandum!” Maksudnya adalah perbanyaklah adabmu sehingga banyaknya melebihi amalanmu, sehingga bila diibaratkan adalah seperti gandum yang cukup dibubuhkan sedikit garam padanya. Sesungguhnya banyaknya adab dengan sedikit amal shalih itu lebih baik daripada banyak amal dengan sedikit adab. Kisah ini disebutkan oleh Imam Al-Qarafi dalam kitabnya, Al-Furuq (3/96).

Ibrahim bin Habib bin Syahid berkata bahwa ayahnya berkata kepadanya: “Datangilah para fuqaha’ dan para ulama dan belajarkan dari mereka. Ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak bicara.”[10]

Salah seorang dari kalangan salaf berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, bila engkau mempelajari satu bab saja mengenai adab, maka itu lebih aku sukai dari pada engkau belajar tujuh puluh bab mengenai ilmu.” Sedangkan Abu Zakariya Al-Anbari[11] mengatakan: “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar, sedangan adab tanpa ilmu adalah seperti ruh tanpa jasad.”

Sifat-sifat terpenting macam apa yang ditekankan oleh Rasulullah saw di dalam membimbing anak-anak dan menenamkan sifat-sifat itu pada diri mereka? Melalui penelaahan terhadap hadits-hadits Nabi, maka kita temukan ada sembilan macam adab yang terpenting sebagai berikut:

Bersambung ………….

Wallohu a`lam

Abdurrahman bin Auf

Sumber :

Manhaj Tarbiyatun An Nabawiyah Li- atfal


[1] Muhammad Khadhar Husain, As-Sa’dah al-Uzhma, h. 60.

[2] Ibnu Hajar, Fathul-Bari, 13/3.

[3] Imam Sya’rani, Tanbih al-Mughtarin, h. 41.

[4] Ibnu Abdil-Barr, Jami’ Bayan al-Ilm fa Fazhlihi, 1/86.

[5] Hadits dha’if. Lihat Dha’if al-Jami’, no. 4645 dan Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah, no. 1887 karangan Albani. Tirmidzi mencantumkannya dalam Al-Birr wa as-Shilah, no. 1952 dan ia mengatakan: Hadits ini gharib. Nasih bin Ala’ al-Kufi, salah seorang rawi hadits ini, menurut ahli hadits tidaklah kuat, sedangkan hadits ini hanya dikenal melalui perawi ini. Lihat Jami’ al-Ushul, 1/416 yang ditahqiq oleh Arna’uth.

[6] Sanadnya majhul dan dha’if. Hakim menshahihkannya, namun Dzahabi menolaknya dengan mengatakan: Hadits ini mursal dha’if. Tirmidzi menyatakan gharib mursal. Sebab, Amru bin Sa’id bin Ash tidak pernah bertemu dengan Nabi saw karena ia adalah seorang tabi’i. Lihat Jami’ al-Ushul, 1/416, ditahqiq oleh Arna’uth.

[7] Imam Sya’rani, Tanbih al-Mughtarin, h. 41.

[8] Ahkam al-Maulud, h. 225.

[9] Mawardi, Nasihah al-Muluk, h. 173.

[10] Khathib Baghdadi, Al-Jami’ baina Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, 1/17.

[11] Ibid. Lihat juga kitab Al-Imla’ wa al-Istimla’ karangan Sam’ani.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: